Minggu, 13 September 2015

me time...emang ada waktu untuk diri kita sendiri??

Dear hanien kekasihku...
Sungguh melelahkan pulang pergi kerja dengan jarak yg jauh itu ternyata,
Hei kekasihku.
Maaf sudah lama aku tidak berkirim surat lagi kepadamu, hanya sekedar menebar senyum lewat kata2 yg aku tulis.
Bagiku...
Dunia ini ramai sekali,
Dunia ini penuh dengan kesibukan yg belum tentu ada maknanya,
Dan itu sungguh membosankan bagiku.
Sibuk mendengar cerita orang ketika ia bercerita langsung dihadapanku. Lalu sibuk melihat aktivitas orang lain di dunia maya dengan berbagai fose narsis dan ekist yg mereka susun, sehingga terkesan anggun. Sibuk juga dengan membaca status orang yg sibuk mengejar mimpi.
Semua itu membuat ramai dan dunia menjadi penuh dengan keributan, itu pula membuat jiwa dan pikiran serta panca inderaku tidak bisa beristirahat dibuatnya.
Kau tahu kekasihku....
Diam diam aku matikan bbm, line, wa, dll barang sehari dua hari. Aku jauhkan diri dari tablet kesayanganku, sehingga aku tidak berkontak dengan siapapun.  Tak lupa pula kumatikan hapeku, agar dunia ini sepi begitu saja.
Entah kenapa aku merasakan tenang...enjoy...asyik....dan itu membuatku bahagia.
Inilah ME TIME versiku. Tidak melakukan kontak dengan dunia luar, cukup diam di rumah, melakukan yg tidak pernah aku lakukan sebelumnya, misalkan saja bersih2 rumah, menata ulang interior kamar, membuat ruang baru dengan tema yg berbeda....wow...luar biasa rasanya....
Satu hal yg pasti....
Aku berkebun...ya ..aku berkebun kekasihku...
Aku kini memiliki taman nyata, selain taman hati yg indah untukku. Ketika aku lelah, disitu aku merasa pulang, merasa nyaman kembali.

Demikian dulu
Jangan lupa kirim kabar lewat bulan purnama
Jika kau masih memikirkanku....
Amiiinnnn




Rabu, 19 Agustus 2015

Taman hati untuknya



"Aku sedang berbicara pada bunga yang ada di taman kecil itu".
"Tentang pertanyaan sebuah cinta".
"Kepada bunga itu aku bertanya, benarkah ia mencintaiku ???"
"Benarkah ia berani menyimpan perasaannya sampai akhir hayatnya untukku?"

Sebenarnya cerita ini aku angkat dari cerita tentang teman kampusku, yang menurutku memiliki prilaku yang tidak dari biasanya dibandingkan teman-temanku lainnya.
Bagiku ia berbeda dari teman yang aku temui selama ini.
Ia seseorang yang selalu menyiram bunga di taman kampus itu di pagi dan sore hari. Diam-diam dari kejauhan aku memperhatikannya, "lalu ia bertanya pada bunga itu, kapankah ia bertemu dengan kekasihnya ???"

Kekasihnya telah hilang beberapa bulan yang lalu. Ia pergi entah kenapa, hanya beberapa pesan singkat yang disampaikan kepadanya melalui email bahwa ia akan pergi dan tak akan kembali. Wanita itu bukan wanita pencari, bukan wanita yang suka memberontak keadaan. Ia wanita biasa-biasa saja. Tidak cantik apalagi rupawan, ia biasa2 saja. Tidak memiliki banyak teman, ia suka menyendiri, dan kesendirian membuat ia bahagia. Entahlah, mengapa bisa begitu, ia sendiri tidak bisa menjawab ketika ia ditanya begitu.
Lagi-lagi saat ini aku sedang memperhatikannya dari jauh, ia sedang duduk sendiri di taman itu. Ia sedang mengetik di depan laptopnya. Duduk sendiri, sambil minum kopi. Aku yakin ia suka dengan situasi seperti itu.
Ia tersiksa, dengan situasi baru ini, batinnya. Banyak yang ia tidak bisa dinikmatinya lagi. Semenjak matahari di dalam hatinya telah pergi. Baginya, ia tidak ingin mencari orang untuk curhat. Ia hanya ingin sendirian, itu saja.
Aku pernah mencuri membaca tulisan yang ia sedang tulis, ketika ia meninggalkan laptopnya di taman bunga itu ketika ia pergi ke teolet. 
Berikut beberapa petikan tulisan itu,

“Wahai bunga di taman hatiku, kaulah yang menjadi saksiku, jika kau hidup untukku, maka aku akan bertemu dengannya kembali. Jika tidak, aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi selamanya. Maka dengan senang hati aku akan selalu menyiramimu setiap hari, sambil aku berdoa agar aku bisa bertemu dengannya, bukan karena kami saling mencari, namun saling menemukan. karena sesungguhnya di dalam hatiku yang paling dalam aku sangat ingin bertemu dengannya kembali”


Senin, 17 Agustus 2015

surat di tahun 2015



Ada apa dengan tahun 2015??
Bagiku tahun ini tahun yang mengejutkan, benar2 mengejutkan ….Tuhan Maha mengejutkan ternyata.
Sedikit aku ingin bercerita kepadamu Titin.
Tentang kisahku yang ada di tahun 2015 ini,
Kita mulai ya……..
Sebenarnya cerita bulan Januari tidak lepas dari bulan-bulan sebelumnnya yang berada diposisi tahun 2014. Aku ingat betul bulan November,  aku lupa tanggalnya, aku ikut tes CPNS. Ikut menjadi peserta tes CPNS tidak lain bertujuan untuk menyenangkan hati orang tua terutama mamah yang selalu berharap sekali ada salah satu dari anaknya menjadi pegawai negeri yaitu AKU. Alasan lain, karena aku perempuan, ya perempuan, lagi-lagi perempuan, maka aku harus punya pegangan dalam hidup. Aku perempuan harus mandiri tidak bergantung pada siapapun termasuk suami. Aku perempuan, maka aku harus jadi PNS. "Kapan kamu jadi PNS", pertanyaan yang tidak bisa aku hindari ketika aku mudik keorangtuaku. Jawabanku, "PNS itu takdir bukan pilihan", lalu aku dibalas dengan jawaban, "kalau begitu usahakan agar takdirmu itu untuk menjadi PNS". Aku terdiam, berat sungguh berat untuk yang satu ini. Bermula dari cerita itulah aku berpikir inilah saatku untuk mewujudkan mimpi ibuku di penghujung akhir 35 tahun, kesempatan akhir untuk ikut tes CPNS.
Diperjalanan selanjutnya, diam-diam tanpa sepengetahuanku, suamiku tercinta mendaftarkanku lewat online, setelah aku berdebat kesekian kalinya untuk tidak mengikuti ikut tes CPNS, dengan alasan aku sesungguhnya ingin menjadi dosen meski dosen swasta dan tidak menjadi PNS. Karena saat itu status PNS sangat sukar untuk aku peroleh begitu saja. Lalu entah mengapa rahmat dari Illahi akhirnya aku terdaftar dan lulus untuk ikut TES CPNS di bulan awal November 2014.

Persiapan seminggu untuk belajar buku tes CPNS, akhirnya, dengan deg-degan aku ikut tes. entah mengapa pasrah yang begitu tinggi membuat segala-galanya menjadi mudah. Toh tujuan ikut CPNS ini tidak lain untuk menyenangkan hati mamah, jadi aku tidak memiliki beban apa-apa, kalau dapat Alhamdulillah sekali, kalau pun tidak, juga tidak apa-apa.

Singkat cerita sesuatu telah mengejutkanku
 Tiba-tiba handphoneku berbunyi ;
“Haloo, apakah ini bu liza, ini dari BKD Loteng?”
“Benar bapak, ini dengan siapa?
“Bisa saya minta no KTP dan no ijazahnya?”
“Maaf bapak, kenapa putus-putus?”
“Nanti saya telpon kembali ibu?”
“Oh iyaaaaaa bapak, terimakasih banyak”
Aku bertanya dalam hati, siapakah dia?? Aku pun tidak menggubrisnya karena suara yang mengatakan identitas diri dari BKD Loteng itu tidak jelas di telinga, jadi aku berpikir yang menelpon tadi dari PU Loteng, untuk mengajak mengerjakan proyek.

Kau tahu Tin, sahabatku….
Saat itu aku sudah banyak menyusun peta rencana, dimana aku ingin menjadi penulis, aku ingin punya karya lagi, setelah kemarin aku menganggap diriku gagal untuk sebagai penulis, dikarenakan bukuku tidak laku di pasaran. Penyebabnya adalah si penerbit tidak mengedit tulisanku, akhirnya apa yang terjadi, tulisanku buruk hanya gara-gara banyak ketikan yang salah. Bersedihlah aku Tin. Dari itulah aku ingin mengulang membuat buku yang baik, mulai dari sekarang dan selama-lamamnya. Aku sudah mempersiapkan diri, data, ide yang akan aku tuliskan, bahkan aku mulai mengumpulkan uang untuk membaca buku sebagai referensiku, menabung kata-kata, membuat otakku sebagai gudang pengetahuan.  Dan lebih gila lagi semua tembok, laptop aku aku tuliskan sebagai alarmku untuk banyak membaca, banyak menulis, memotivasiku agar aku tidak lelah mengejar cita-citaku sebagai penulis.

Selain itu aku juga sudah menyusun rencana juga, jika aku ingin sekolah s3 lagi, Tin….lalu aku ingin mengejar diri untuk bisa mendapatkan gelar professor meski itu mission imposible, namun bagiku itu menyenangkan, karena aku bisa bermanfaat untuk orang lain. Aku sudah mempatri diriku agar hari-hariku penuh dengan petualang ilmu pengetahuan, dan itu sungguh menyenangkanku lagi…..pasti kau tersenyum membaca isi suratku pagi hari ini hehhehe.

Semua itu berubah ketika handphoneku itu berdering sekitar jam 20.00 malam, setelah aku bercerita ke suamiku jika aku ditelpon oleh sesorang yang dari dinas Loteng. Suamiku marah karena aku tidak mempertegaskan identitas siapa seseorang yang menelponku saat itu. Lalu handphoneku itu berdering kembali tak lama kemudian, 

" Haloo, selamat malam, ini dengan bu Liza? "
" Benar, maaf ini dengan siapa?"
Pertanyaan yang disampaikan tadi pagi diulang lagi. Aku curiga, siapa orang tersebut, 
" Maaf bapak, kenapa bapak menanyakan no ktp dan ijazah saya, ada apa?"
"Apakah ibu belum mengerti?"
" Tidak bapak"
bapak itu tertawa-tertawa, sengaja membuat aku penasaran,
" Ibu lulus tes CPNS!!!"
"Hah????????????"
Nano-nano rasanya, benar benar kaget dikarenakan bayangan pengumuman 17 Desember 2014 yang tidak ada namaku itu melintas di otakku. Bayangan mamah silih berganti di hadapanku, yang saat itu mamah masih berada di Mekkah, sedang menjalankan umroh bersama abah.

Kau tau tidak Tin?,
selang sehari aku mendapat berita jika abah jatuh sakit di Mekkah, dan positif ia tidak bisa pulang ke Lombok karena ia mengidap penyakit jantung. Kosentrasiku buyar, bahkan kebahagiaanku pun buyar. Yang ada kesedihan karena abah harus tinggal di Mekkah, tidak bisa ikut pulang bersama mamahku. Hari-hari aku lalui, penuh kesedihan dan ketidaktenangan. Hingga pemberkasan berlalu begitu saja, tanpa bekas di hatiku.

Aku sudah merasakan kebahagiaan ketika abah pulang dari Mekkah, pasca operasi jantungnya. Mungkin berkumpul dengan keluarga itulah kebagiaan sejati. Sedangkan mendapatkan berita lulus CPNS itu pendukung kebahagiaan juga, tertuma kebahagiaan untuk mamahku….

Akhir cerita Tin…
Aku bahagia dengan segala model bentuk cerita yang tuhan berikan kepadaku. Benar-benar WOW, sensasi di hati, rame-rame….iya…aku bahagia….benar-benar bahagia.
Terimakasih Tuhan, terimakasih Tin atas pertemanan ini…bye….

Kamis, 14 Agustus 2014

Nyawen Dusun Lekok



Cerita lain lagi adalah cerita di sore hari (4 agustus 2014)  tentang perayaan Nyawen alias selametan pantai yang diselenggarakan oleh masyarakat Lekok.  Jujur sejujurnya inilah pertama kalinya saya melihat upacara nyawen . Upacara yang sangat sederhana diselenggarakan di pinggir pantai Lekok merupakan hari kegembiraan bagi masyarakat Lekok seluruhnya, dikarenakan acara ini dilakukan sekali dalam setahun
yaitu di lebaran topat. Acara ini dihadiri oleh bupati, kades, kadus, masyarakat lekok dan kami dari teman-teman delta api. Inti dari perayaan nyawen adalah bersyukur terhadap Allah SWT dan senantiasa meminta keberkahan atas hidup ini terutama bagi nelayan yang selalu berharap kesuseksan hidup dalam melaut. Prosesi dilakukan dengan berzikir, menabur bunga dan diakhiri makan berjemaah yang sudah disiapkan oleh kaum perempuan dalam hal ini adalah para ibu-ibu rumah tangga dan remaja putri Lekok. Hikmah yang diperoleh dari acara ini bagi saya pribadi adalah ketika nilai kebersamaan itu diikat terus dalam batin di setiap individu yang diritualkan secara bersama-sama lalu diturunkan ke anak cucu secara bersama-sama, maka paham individualisme yang disuntik oleh para kapitalisme tidak akan mempan masuk ke dalam masyarakat Lekok apalagi masyarakat Indonesia seluruhnya. Pertanyaannya adalah masihkah ada rasa kebersamaan itu di dalam hati kita?? Hehehe

Akhirnya kita keliling lombok anak anakku….

Bertambah lagi kebahagiaan yang mamak rasakan sebagai orang tua adalah ketika mamak bisa mengajak kalian berkeliling Lombok. Tepatnya 2 agustus 2014 kita dengan tante Afifah, tante Salsa, Safira, dan nenek Yuyun beserta mobil kijang putih kita yang selalu menemani kita kemana kita pergi berkeliling pulau Lombok. Awalnya ide ini terpikirkan ketika seseorang teman berkata “ apa, mamaknya saja yang suka jalan-jalan”, tek…terketuk hati mamak, padahal sesungguhnya bukan maksud menyindir, tapi itu kenyataannya, jika
mamak jarang membawa kalian bepergian jalan-jalan dengan jarak yang cukup jauh, maafkan mamak ya nak. Mamak dikondisikan pada sebuah tugas/pekerjaan yang mengharuskan mamak sepertinya terkesan jalan-jalan. Namun terlepas dari itu semua, berjalan-jalan dengan kalian anak-anakku, itu lebih menyenangkan dari perjalanan mamak sebelum-sebelumnya. Perjalanan yang penuh canda lebih-lebih ketika kalian bertanya tentang hewan-hewan yang ada di hutan, apa itu gunung, ketika kita melewati jalan menuju Sembalun. Dan teramat lucu, ketika melewati jalan Pusuk, celetuk kakak Fiqri yang mamak masih ingat sampe sekarang yaitu “mak, kenapa monyet yang ada di Sembalun lebih gemuk, gondrong, tidak rapi dan menyeramkan dibandingkan monyet yang ada di Pusuk yang lebih kurus ramping, dan tidak gondrong?”, lalu mamak menjawab “semua dikarenakan modernisasi anak-anakku, kalau di Sembalun monyet-monyetnya lebih berkarakter desa, sedangkan kalau di Pusuk sudah berkarakter kota,  yang lebih memperhatikan penampilan, sudah mulai makan roti, es krem, dan sudah mau pake kacamata supaya dibilang keren”…..hahahah riuh tertawa kami bersama. Tahukah kalian inilah puncak kebahagiaan yang terbesar di dalam hati mamak. Doakanlah untuk mamak dan mamiq agar senantiasa bisa membawamu berjalan-jalan kemana kalian ingin pergi.  Salam mentari pagi untuk anak mamak yang ganteng-ganteng. Love you…..

Sumba dan Bali....i love it....

Biarkan saya bercerita tentang kebahagian yang saya rasakan ketika saya berperan sebagai fasilitator mengajar di pulau Bali dan di pulau Sumba. Saya jadi teringat akan mimpi-mimpi saya dimasa lampau akan pengembaraan saya di negeri orang lain nantinta. Pada saat itu pula saya bermimpi menjadi guru di desa terpencil.  Namun di tahun 2013 tepatnya bulan November entah mengapa Tuhan mewujudkan mimpi–mimpi saya saat itu. Inilah wujudnya yaitu berperan  sebagai tenaga pengajar mengenai pemetaan sosial dari salah satu desa di Sumba dan Bali. Saya tidak akan menceritakan materi ajar yang saya ajarkan,namun kesenangan akan pengalaman baru yang sebelumnya tidak saya pernah saya rasakan selama hidup saya.
Pengalaman pertama adalah di Sumba.

“ Gilaaaaaaa, besok saya ke Sumba sis”…..terlontar ketika saya menelpon sahabat saya yang sekarang ia telah meninggalkan saya dan menghilang entah kemana saya tidak tahu.  Sumba membuat saya kembali teringat dengan almarhum pak Galih dosen saya ketika s1 14tahun yang lalu. Dulu beliau memberikan materi kuliah tentang arsitektur nusantara, yang slide materi kuliah tersebut menerbitkan permukiman perumahan desa Sumba. Saya pun tercengang saat itu. Dan saya ingat betul kata-kata dalam hati tentang “kapankah saya ke Sumba ya Allah”.  Luar biasanya lagi sekarang ini saya berada di Sumba mengajar dan melatih pemuda-pemuda di Sumba tentang desa pesisir ekologis, tangguh dan adaptif terhadap perubahan iklim yang disingkat dengan ECV (Eco Climate Village). Sedikit bercerita tentang ECV, adalah konsep pengembangan desa pesisir yang berbasis adatif perubahan iklim.  Latar belakang munculnya ECV disebabkan banyak sekali desa-desa yang sudah tidak bisa membaca perubahan iklim sehingga tanpa disadari bencana alam menyerang mereka secara tiba-tiba. Untuk mengantisipasi kekhawatiran akibat dari perubahan iklim maka saya sebagai fasilitator dengan sukarewalan membantu teman-teman pemuda desa Di Sumba memahami apa itu perubahan iklim dan bagaimana membangun mimpi desa mereka sendiri berdasarkan perubahan-perubahan iklim yang akan terjadi nantinya. Yang ada hanya ucap alhamdulillah dan sujud syukur dikarenakan tanpa disadari mimpi-mimpi yang terucap dalam hari itu tiba-tiba terwujudkan oleh Allah SWT. Luar biasa engkau Tuhan ucapku tak henti-hentinya.
 Pengalaman kedua adalah di Bali
Sama halnya yang ada di Bali tidak ada bedanya, hanya lokasinya saja yang berbeda, namun peran saya sebagai tenaga pengajar tetap sama. Yang membedakan tampak jelas dari spirit pemuda yang ada di Bali yang jauh lebih energik dan bersemangat dibandingkan pemuda yang ada di Sumba. Mungkin disebabkan SDM dan akses informasi yang menjadikan para pemuda yang ada di Bali menjadi demikian. Bali tidak begitu menantang bagi saya, baik secara lokasi maupun kepintaran dari pesertanya dalam memahami materi apa yang disampaikan oleh saya. Hal ini sebabkan Bali lebih maju dari segi pembangunan fisik, ekonomi, sosial dan budaya dibandingkan pemuda yang di Sumba yang masih minim dibandingkan di Bali.
Bali dan sumba membuat banyak hikmah dalam kehidupan saya sampai sekarang. Hikmah yang terbesar adalah ketika melihat keinginan masyarakat desa dalam hal ini pemuda desa mau membangun mimpi desa mereka dengan antusias. Bagi mereka hanya dengan “kemajuan” dibidang apapun membuat mereka tidak merasa tertinggal dan merasa terjajah secara kultural. Harus bangkit, menentukan pilihan sendiri demi kemajuan desa.  Akhirnya saya pun membuat motivisi baru dalam hidup saya bahwa saya harus terus belajar, belajar tentang banyak hal, tentang desa, tentang pesisir, tetnang perencanaan dan lebih harus dipelajari adalah tentang bagaimana semua ini membuat saya makin dekat dengan sang pencipta dan membuat saya lebih bermanfaat untuk orang lain. Amiiiin…..
Salam delta api untukmu kawan

Ada Apa dengan Gili Air Pulau yang Indah itu

Sebuah perjalanan yang sungguh menyenangkan pada hari kamis, 17 juli 2014 ketika kami tim delta api berkunjung sekaligus bersilahturahmi ke teman-teman delta api yang ada di Gili Air. Hal yang pertama kami lakukan adalah bertamu dan ngobrol-ngobrol ringan di kafe milik Atak yang merupakan salah satu personal  delta api  Gili Air, yaitu ngobrol-ngobrol biasa bertemakan disekitaran apa yang terjadi di Gili Air. Kami yang  terdiri dari, saya sendiri, Dennar, mas Wawan, Tari, Mahni, Supiyani, Atak, Bayu merupakan orang-orang lumayan peduli akan peramasalahan yang terjadi di Gili Air, nih ceritanya hehehehe.
 Permasalahan utama yang diceritakan dan membuat sesak di hati adalah permasalahan lahan yang menurut warga asli Gili Air, sudah tidak memiliki  kepimilikan lahan milik pribadi. Lahan-lahan yang dimiliki secara turun menurun telah dijual, diakibatkan oleh  terhimpitnya  kepentingan ekonomi keluarga. Lahan lebih banyak terjual kepada investor baik investor asing maupun lokal. Yang terjadi selanjutnya, semua lahan pemiliki warga lokal telah disulap menjadi bangunan pariwisata seperti hotel, kafe, restauran, kolam renang dan lain-lain. Selain itu berpindahnya mata pencaharian masyarakat lokal yang awalnya rata-rata nelayan, namun adanya bantuan keramba dari dinas kelautan dan perikanan, membuat masyarakat berhenti diperbolehkan melaut, dan akhirnya mereka  menjadi pedagang, guide, bahkan berpindah tempat mencari pekerjaan di pulau lombok. Masyarakat  tidak mempunyai pilihan lain kecuali menjual tanah mereka dan membuka usaha lain yang tidak sesuai dengan basic keterampilan yang dimilikinya sendiri.
Selain itu ketiadaan aturan yang jelas dalam kebijakan dalam perencaaan terutama rencana tata ruang bangunan lingkungan (RTBL) maupun tata ruang kawasan yang peduli pada kepentingan masyarakat lokal. Artinya keberadaan permukiman penduduk makin tergeserkan, disebabkan adanya bangunan baru, membuat permukiman penduduk lokal terlihat kumuh dan tidak beraturan.  Ketiadaan perhatian kepentingan masyarakat lokal baik secara fisik, ekonomi, sosial dan budaya membuat masyarakat lokal merasakan kegielisahan hidup di Gili Air.

Kini….di desa sendiri sudah tidak nyaman lagi. Desa kelahiran, desa tempat tumbuh kembang kehidupan sudah dimiliki oleh para pendatang. Ironis bukan??…..rumahku bukan surgaku, sebaliknya rumahku surganya orang lain, dan banyak masyarakat lokal Gili air pindah dan berkehidupan di pulau Lombok. Selamat tinggal Gili Indah, engkau hanya bagian dari masa lalu bukan masa depan, ucap mereka….