Dear hanien kekasihku...
Sungguh melelahkan pulang pergi kerja dengan jarak yg jauh itu ternyata,
Hei kekasihku.
Maaf sudah lama aku tidak berkirim surat lagi kepadamu, hanya sekedar menebar senyum lewat kata2 yg aku tulis.
Bagiku...
Dunia ini ramai sekali,
Dunia ini penuh dengan kesibukan yg belum tentu ada maknanya,
Dan itu sungguh membosankan bagiku.
Sibuk mendengar cerita orang ketika ia bercerita langsung dihadapanku. Lalu sibuk melihat aktivitas orang lain di dunia maya dengan berbagai fose narsis dan ekist yg mereka susun, sehingga terkesan anggun. Sibuk juga dengan membaca status orang yg sibuk mengejar mimpi.
Semua itu membuat ramai dan dunia menjadi penuh dengan keributan, itu pula membuat jiwa dan pikiran serta panca inderaku tidak bisa beristirahat dibuatnya.
Kau tahu kekasihku....
Diam diam aku matikan bbm, line, wa, dll barang sehari dua hari. Aku jauhkan diri dari tablet kesayanganku, sehingga aku tidak berkontak dengan siapapun. Tak lupa pula kumatikan hapeku, agar dunia ini sepi begitu saja.
Entah kenapa aku merasakan tenang...enjoy...asyik....dan itu membuatku bahagia.
Inilah ME TIME versiku. Tidak melakukan kontak dengan dunia luar, cukup diam di rumah, melakukan yg tidak pernah aku lakukan sebelumnya, misalkan saja bersih2 rumah, menata ulang interior kamar, membuat ruang baru dengan tema yg berbeda....wow...luar biasa rasanya....
Satu hal yg pasti....
Aku berkebun...ya ..aku berkebun kekasihku...
Aku kini memiliki taman nyata, selain taman hati yg indah untukku. Ketika aku lelah, disitu aku merasa pulang, merasa nyaman kembali.
Demikian dulu
Jangan lupa kirim kabar lewat bulan purnama
Jika kau masih memikirkanku....
Amiiinnnn
Minggu, 13 September 2015
Rabu, 19 Agustus 2015
Taman hati untuknya
"Aku sedang berbicara pada bunga
yang ada di taman kecil itu".
"Tentang pertanyaan sebuah cinta".
"Kepada bunga itu aku bertanya, benarkah ia mencintaiku ???"
"Benarkah ia berani menyimpan
perasaannya sampai akhir hayatnya untukku?"
Sebenarnya cerita ini aku angkat
dari cerita tentang teman kampusku, yang menurutku memiliki prilaku yang tidak
dari biasanya dibandingkan teman-temanku lainnya.
Bagiku ia berbeda dari teman yang
aku temui selama ini.
Ia seseorang yang selalu menyiram
bunga di taman kampus itu di pagi dan sore hari. Diam-diam dari kejauhan aku memperhatikannya, "lalu ia bertanya
pada bunga itu, kapankah ia bertemu dengan kekasihnya ???"
Kekasihnya telah hilang beberapa
bulan yang lalu. Ia pergi entah kenapa, hanya beberapa pesan singkat yang
disampaikan kepadanya melalui email bahwa ia akan pergi dan tak akan kembali.
Wanita itu bukan wanita pencari, bukan wanita yang suka memberontak keadaan. Ia
wanita biasa-biasa saja. Tidak cantik apalagi rupawan, ia biasa2 saja. Tidak
memiliki banyak teman, ia suka menyendiri, dan kesendirian membuat ia bahagia.
Entahlah, mengapa bisa begitu, ia sendiri tidak bisa menjawab ketika ia ditanya
begitu.
Lagi-lagi saat ini aku sedang
memperhatikannya dari jauh, ia sedang duduk sendiri di taman itu. Ia sedang
mengetik di depan laptopnya. Duduk sendiri, sambil minum kopi. Aku yakin ia
suka dengan situasi seperti itu.
Ia tersiksa, dengan situasi baru
ini, batinnya. Banyak yang ia tidak bisa dinikmatinya lagi. Semenjak matahari di
dalam hatinya telah pergi. Baginya, ia tidak ingin mencari orang untuk curhat. Ia hanya
ingin sendirian, itu saja.
Aku pernah mencuri membaca tulisan yang ia
sedang tulis, ketika ia meninggalkan laptopnya di taman bunga itu ketika ia pergi ke teolet.
Berikut beberapa petikan tulisan itu,
“Wahai bunga di taman hatiku,
kaulah yang menjadi saksiku, jika kau hidup untukku, maka aku akan bertemu
dengannya kembali. Jika tidak, aku tidak akan pernah bertemu dengannya
lagi selamanya. Maka dengan senang hati aku akan selalu menyiramimu setiap
hari, sambil aku berdoa agar aku bisa bertemu dengannya, bukan karena kami
saling mencari, namun saling menemukan. karena sesungguhnya di dalam hatiku yang paling dalam aku sangat ingin bertemu dengannya kembali”
Senin, 17 Agustus 2015
surat di tahun 2015
Ada apa dengan tahun 2015??
Bagiku tahun ini tahun yang
mengejutkan, benar2 mengejutkan ….Tuhan Maha mengejutkan ternyata.
Sedikit aku ingin bercerita
kepadamu Titin.
Tentang kisahku yang ada di tahun
2015 ini,
Kita mulai ya……..
Sebenarnya cerita bulan Januari
tidak lepas dari bulan-bulan sebelumnnya yang berada diposisi tahun 2014. Aku ingat
betul bulan November, aku lupa
tanggalnya, aku ikut tes CPNS. Ikut menjadi peserta tes CPNS tidak lain
bertujuan untuk menyenangkan hati orang tua terutama mamah yang selalu berharap
sekali ada salah satu dari anaknya menjadi pegawai negeri yaitu AKU. Alasan lain, karena aku
perempuan, ya perempuan, lagi-lagi perempuan, maka aku harus punya pegangan dalam hidup. Aku perempuan
harus mandiri tidak bergantung pada siapapun termasuk suami. Aku
perempuan, maka aku harus jadi PNS. "Kapan kamu jadi PNS", pertanyaan yang tidak bisa aku hindari ketika aku mudik keorangtuaku. Jawabanku, "PNS itu takdir bukan pilihan", lalu
aku dibalas dengan jawaban, "kalau begitu usahakan agar takdirmu itu untuk
menjadi PNS". Aku terdiam, berat sungguh berat untuk yang satu ini. Bermula dari cerita itulah aku berpikir
inilah saatku untuk mewujudkan mimpi ibuku di penghujung akhir 35 tahun, kesempatan akhir untuk ikut tes CPNS.
Diperjalanan selanjutnya, diam-diam tanpa sepengetahuanku, suamiku tercinta
mendaftarkanku lewat online, setelah aku berdebat kesekian kalinya untuk tidak
mengikuti ikut tes CPNS, dengan alasan aku sesungguhnya ingin
menjadi dosen meski dosen swasta dan tidak menjadi PNS. Karena saat itu status PNS sangat sukar untuk aku peroleh begitu saja. Lalu entah mengapa rahmat
dari Illahi akhirnya aku terdaftar dan lulus untuk ikut TES CPNS di bulan awal November 2014.
Persiapan seminggu untuk belajar
buku tes CPNS, akhirnya, dengan deg-degan aku ikut tes. entah mengapa pasrah
yang begitu tinggi membuat segala-galanya menjadi mudah. Toh tujuan ikut CPNS
ini tidak lain untuk menyenangkan hati mamah, jadi aku tidak memiliki beban
apa-apa, kalau dapat Alhamdulillah sekali, kalau pun tidak, juga tidak apa-apa.
Singkat cerita sesuatu telah mengejutkanku
Tiba-tiba handphoneku berbunyi ;
“Haloo, apakah ini bu liza, ini
dari BKD Loteng?”
“Benar bapak, ini dengan siapa?
“Bisa saya minta no KTP dan no
ijazahnya?”
“Maaf bapak, kenapa putus-putus?”
“Nanti saya telpon kembali ibu?”
“Oh iyaaaaaa bapak, terimakasih
banyak”
Aku bertanya dalam hati, siapakah
dia?? Aku pun tidak menggubrisnya karena suara yang mengatakan identitas diri dari BKD Loteng itu tidak jelas di telinga, jadi aku berpikir yang menelpon tadi dari PU Loteng, untuk mengajak mengerjakan proyek.
Kau tahu Tin, sahabatku….
Saat itu aku sudah banyak
menyusun peta rencana, dimana aku ingin menjadi penulis, aku ingin punya karya
lagi, setelah kemarin aku menganggap diriku gagal untuk sebagai penulis,
dikarenakan bukuku tidak laku di pasaran. Penyebabnya adalah si penerbit tidak mengedit tulisanku,
akhirnya apa yang terjadi, tulisanku buruk hanya gara-gara banyak ketikan yang
salah. Bersedihlah aku Tin. Dari itulah aku ingin mengulang membuat buku yang
baik, mulai dari sekarang dan selama-lamamnya. Aku sudah mempersiapkan diri,
data, ide yang akan aku tuliskan, bahkan aku mulai mengumpulkan uang untuk
membaca buku sebagai referensiku, menabung kata-kata, membuat otakku sebagai gudang pengetahuan. Dan lebih gila lagi semua
tembok, laptop aku aku tuliskan sebagai alarmku untuk banyak membaca, banyak
menulis, memotivasiku agar aku tidak lelah mengejar cita-citaku sebagai
penulis.
Selain itu aku juga sudah menyusun rencana
juga, jika aku ingin sekolah s3 lagi, Tin….lalu aku ingin mengejar diri untuk
bisa mendapatkan gelar professor meski itu mission imposible, namun bagiku itu menyenangkan, karena aku bisa
bermanfaat untuk orang lain. Aku sudah mempatri diriku agar hari-hariku penuh
dengan petualang ilmu pengetahuan, dan itu sungguh menyenangkanku lagi…..pasti
kau tersenyum membaca isi suratku pagi hari ini hehhehe.
Semua itu berubah ketika
handphoneku itu berdering sekitar jam 20.00 malam, setelah aku bercerita ke
suamiku jika aku ditelpon oleh sesorang yang dari dinas Loteng. Suamiku marah
karena aku tidak mempertegaskan identitas siapa seseorang yang menelponku saat
itu. Lalu handphoneku itu berdering kembali tak lama kemudian,
" Haloo, selamat malam, ini dengan bu Liza? "
" Benar, maaf ini dengan siapa?"
Pertanyaan yang disampaikan tadi pagi diulang lagi. Aku curiga, siapa orang
tersebut,
" Maaf bapak, kenapa bapak menanyakan no ktp dan ijazah saya, ada apa?"
"Apakah ibu belum mengerti?"
" Tidak bapak"
bapak itu tertawa-tertawa, sengaja membuat aku penasaran,
" Ibu lulus tes CPNS!!!"
"Hah????????????"
"Hah????????????"
Nano-nano rasanya, benar benar kaget dikarenakan bayangan pengumuman 17 Desember 2014 yang tidak ada namaku itu melintas di otakku. Bayangan mamah silih berganti di hadapanku, yang saat itu mamah masih berada di Mekkah, sedang menjalankan umroh bersama abah.
Kau tau tidak Tin?,
selang sehari aku mendapat berita jika
abah jatuh sakit di Mekkah, dan positif ia tidak bisa pulang ke Lombok karena
ia mengidap penyakit jantung. Kosentrasiku buyar, bahkan kebahagiaanku pun
buyar. Yang ada kesedihan karena abah harus tinggal di Mekkah, tidak bisa ikut
pulang bersama mamahku. Hari-hari aku lalui, penuh kesedihan dan
ketidaktenangan. Hingga pemberkasan berlalu begitu saja, tanpa bekas di hatiku.
Aku sudah merasakan kebahagiaan
ketika abah pulang dari Mekkah, pasca operasi jantungnya.
Mungkin berkumpul dengan keluarga itulah kebagiaan sejati. Sedangkan
mendapatkan berita lulus CPNS itu pendukung kebahagiaan juga, tertuma
kebahagiaan untuk mamahku….
Akhir cerita Tin…
Aku bahagia dengan segala model
bentuk cerita yang tuhan berikan kepadaku. Benar-benar WOW, sensasi di hati,
rame-rame….iya…aku bahagia….benar-benar bahagia.
Kamis, 14 Agustus 2014
Nyawen Dusun Lekok
Akhirnya kita keliling lombok anak anakku….
Bertambah
lagi kebahagiaan yang mamak rasakan sebagai orang tua adalah ketika mamak bisa
mengajak kalian berkeliling Lombok. Tepatnya 2 agustus 2014 kita dengan tante Afifah,
tante Salsa, Safira, dan nenek Yuyun beserta mobil kijang putih kita yang
selalu menemani kita kemana kita pergi berkeliling pulau Lombok. Awalnya ide
ini terpikirkan ketika seseorang teman berkata “ apa, mamaknya saja yang suka
jalan-jalan”, tek…terketuk hati mamak, padahal sesungguhnya bukan maksud
menyindir, tapi itu kenyataannya, jika
mamak jarang membawa kalian bepergian jalan-jalan dengan jarak yang cukup jauh, maafkan mamak ya nak. Mamak dikondisikan pada sebuah tugas/pekerjaan yang mengharuskan mamak sepertinya terkesan jalan-jalan. Namun terlepas dari itu semua, berjalan-jalan dengan kalian anak-anakku, itu lebih menyenangkan dari perjalanan mamak sebelum-sebelumnya. Perjalanan yang penuh canda lebih-lebih ketika kalian bertanya tentang hewan-hewan yang ada di hutan, apa itu gunung, ketika kita melewati jalan menuju Sembalun. Dan teramat lucu, ketika melewati jalan Pusuk, celetuk kakak Fiqri yang mamak masih ingat sampe sekarang yaitu “mak, kenapa monyet yang ada di Sembalun lebih gemuk, gondrong, tidak rapi dan menyeramkan dibandingkan monyet yang ada di Pusuk yang lebih kurus ramping, dan tidak gondrong?”, lalu mamak menjawab “semua dikarenakan modernisasi anak-anakku, kalau di Sembalun monyet-monyetnya lebih berkarakter desa, sedangkan kalau di Pusuk sudah berkarakter kota, yang lebih memperhatikan penampilan, sudah mulai makan roti, es krem, dan sudah mau pake kacamata supaya dibilang keren”…..hahahah riuh tertawa kami bersama. Tahukah kalian inilah puncak kebahagiaan yang terbesar di dalam hati mamak. Doakanlah untuk mamak dan mamiq agar senantiasa bisa membawamu berjalan-jalan kemana kalian ingin pergi. Salam mentari pagi untuk anak mamak yang ganteng-ganteng. Love you…..
mamak jarang membawa kalian bepergian jalan-jalan dengan jarak yang cukup jauh, maafkan mamak ya nak. Mamak dikondisikan pada sebuah tugas/pekerjaan yang mengharuskan mamak sepertinya terkesan jalan-jalan. Namun terlepas dari itu semua, berjalan-jalan dengan kalian anak-anakku, itu lebih menyenangkan dari perjalanan mamak sebelum-sebelumnya. Perjalanan yang penuh canda lebih-lebih ketika kalian bertanya tentang hewan-hewan yang ada di hutan, apa itu gunung, ketika kita melewati jalan menuju Sembalun. Dan teramat lucu, ketika melewati jalan Pusuk, celetuk kakak Fiqri yang mamak masih ingat sampe sekarang yaitu “mak, kenapa monyet yang ada di Sembalun lebih gemuk, gondrong, tidak rapi dan menyeramkan dibandingkan monyet yang ada di Pusuk yang lebih kurus ramping, dan tidak gondrong?”, lalu mamak menjawab “semua dikarenakan modernisasi anak-anakku, kalau di Sembalun monyet-monyetnya lebih berkarakter desa, sedangkan kalau di Pusuk sudah berkarakter kota, yang lebih memperhatikan penampilan, sudah mulai makan roti, es krem, dan sudah mau pake kacamata supaya dibilang keren”…..hahahah riuh tertawa kami bersama. Tahukah kalian inilah puncak kebahagiaan yang terbesar di dalam hati mamak. Doakanlah untuk mamak dan mamiq agar senantiasa bisa membawamu berjalan-jalan kemana kalian ingin pergi. Salam mentari pagi untuk anak mamak yang ganteng-ganteng. Love you…..
Sumba dan Bali....i love it....
Pengalaman pertama adalah di Sumba.
Pengalaman kedua
adalah di Bali
Sama halnya yang ada di Bali tidak ada bedanya, hanya
lokasinya saja yang berbeda, namun peran saya sebagai tenaga pengajar tetap sama.
Yang membedakan tampak jelas dari spirit pemuda yang ada di Bali yang jauh
lebih energik dan bersemangat dibandingkan pemuda yang ada di Sumba. Mungkin
disebabkan SDM dan akses informasi yang menjadikan para pemuda yang ada di Bali
menjadi demikian. Bali tidak begitu menantang bagi saya, baik secara lokasi
maupun kepintaran dari pesertanya dalam memahami materi apa yang disampaikan
oleh saya. Hal ini sebabkan Bali lebih maju dari segi pembangunan fisik,
ekonomi, sosial dan budaya dibandingkan pemuda yang di Sumba yang masih minim
dibandingkan di Bali.
Bali dan sumba membuat banyak hikmah dalam kehidupan saya
sampai sekarang. Hikmah yang terbesar adalah ketika melihat keinginan
masyarakat desa dalam hal ini pemuda desa mau membangun mimpi desa mereka dengan
antusias. Bagi mereka hanya dengan “kemajuan” dibidang apapun membuat mereka
tidak merasa tertinggal dan merasa terjajah secara kultural. Harus bangkit,
menentukan pilihan sendiri demi kemajuan desa. Akhirnya saya pun membuat motivisi baru dalam
hidup saya bahwa saya harus terus belajar, belajar tentang banyak hal, tentang
desa, tentang pesisir, tetnang perencanaan dan lebih harus dipelajari adalah
tentang bagaimana semua ini membuat saya makin dekat dengan sang pencipta dan
membuat saya lebih bermanfaat untuk orang lain. Amiiiin…..
Salam delta api untukmu kawan
Ada Apa dengan Gili Air Pulau yang Indah itu
Permasalahan utama
yang diceritakan dan membuat sesak di hati adalah permasalahan lahan yang
menurut warga asli Gili Air, sudah tidak memiliki kepimilikan lahan milik pribadi. Lahan-lahan
yang dimiliki secara turun menurun telah dijual, diakibatkan oleh terhimpitnya
kepentingan ekonomi keluarga. Lahan lebih banyak terjual kepada investor
baik investor asing maupun lokal. Yang terjadi selanjutnya, semua lahan
pemiliki warga lokal telah disulap menjadi bangunan pariwisata seperti hotel,
kafe, restauran, kolam renang dan lain-lain. Selain itu berpindahnya mata
pencaharian masyarakat lokal yang awalnya rata-rata nelayan, namun adanya
bantuan keramba dari dinas kelautan dan perikanan, membuat masyarakat berhenti
diperbolehkan melaut, dan akhirnya mereka menjadi pedagang, guide, bahkan berpindah
tempat mencari pekerjaan di pulau lombok. Masyarakat tidak mempunyai pilihan lain kecuali menjual
tanah mereka dan membuka usaha lain yang tidak sesuai dengan basic keterampilan
yang dimilikinya sendiri.
Selain itu ketiadaan aturan yang jelas dalam kebijakan dalam
perencaaan terutama rencana tata ruang bangunan lingkungan (RTBL) maupun tata
ruang kawasan yang peduli pada kepentingan masyarakat lokal. Artinya keberadaan
permukiman penduduk makin tergeserkan, disebabkan adanya bangunan baru, membuat
permukiman penduduk lokal terlihat kumuh dan tidak beraturan. Ketiadaan perhatian kepentingan masyarakat
lokal baik secara fisik, ekonomi, sosial dan budaya membuat masyarakat lokal merasakan
kegielisahan hidup di Gili Air.
Kini….di desa sendiri sudah tidak nyaman lagi. Desa
kelahiran, desa tempat tumbuh kembang kehidupan sudah dimiliki oleh para
pendatang. Ironis bukan??…..rumahku bukan surgaku, sebaliknya rumahku surganya
orang lain, dan banyak masyarakat lokal Gili air pindah dan berkehidupan di
pulau Lombok. Selamat tinggal Gili Indah, engkau hanya bagian dari masa lalu bukan
masa depan, ucap mereka….
Langganan:
Postingan (Atom)