
Biarkan saya bercerita tentang kebahagian yang saya rasakan
ketika saya berperan sebagai fasilitator mengajar di pulau Bali dan di pulau Sumba.
Saya jadi teringat akan mimpi-mimpi saya dimasa lampau akan pengembaraan saya
di negeri orang lain nantinta. Pada saat itu pula saya bermimpi menjadi guru di
desa terpencil. Namun di tahun 2013
tepatnya bulan November entah mengapa Tuhan mewujudkan mimpi–mimpi saya saat
itu. Inilah wujudnya yaitu berperan sebagai tenaga pengajar mengenai pemetaan
sosial dari salah satu desa di Sumba dan Bali. Saya tidak akan menceritakan
materi ajar yang saya ajarkan,namun kesenangan akan pengalaman baru yang
sebelumnya tidak saya pernah saya rasakan selama hidup saya.
Pengalaman pertama adalah di Sumba.

“ Gilaaaaaaa, besok saya ke Sumba
sis”…..terlontar ketika saya menelpon sahabat saya yang sekarang ia telah
meninggalkan saya dan menghilang entah kemana saya tidak tahu. Sumba membuat saya kembali teringat dengan
almarhum pak Galih dosen saya ketika s1 14tahun yang lalu. Dulu beliau
memberikan materi kuliah tentang arsitektur nusantara, yang slide materi kuliah
tersebut menerbitkan permukiman perumahan desa Sumba. Saya pun tercengang saat
itu. Dan saya ingat betul kata-kata dalam hati tentang “kapankah saya ke Sumba
ya Allah”. Luar biasanya lagi sekarang
ini saya berada di Sumba mengajar dan melatih pemuda-pemuda di Sumba tentang
desa pesisir ekologis, tangguh dan adaptif terhadap perubahan iklim yang
disingkat dengan ECV (Eco Climate Village). Sedikit bercerita tentang ECV,
adalah konsep pengembangan desa pesisir yang berbasis adatif perubahan
iklim. Latar belakang munculnya ECV disebabkan
banyak sekali desa-desa yang sudah tidak bisa membaca perubahan iklim sehingga
tanpa disadari bencana alam menyerang mereka secara tiba-tiba. Untuk
mengantisipasi kekhawatiran akibat dari perubahan iklim maka saya sebagai
fasilitator dengan sukarewalan membantu teman-teman pemuda desa Di Sumba
memahami apa itu perubahan iklim dan bagaimana membangun mimpi desa mereka
sendiri berdasarkan perubahan-perubahan iklim yang akan terjadi nantinya. Yang
ada hanya ucap alhamdulillah dan sujud syukur dikarenakan tanpa disadari
mimpi-mimpi yang terucap dalam hari itu tiba-tiba terwujudkan oleh Allah SWT.
Luar biasa engkau Tuhan ucapku tak henti-hentinya.
Pengalaman kedua
adalah di Bali
Sama halnya yang ada di Bali tidak ada bedanya, hanya
lokasinya saja yang berbeda, namun peran saya sebagai tenaga pengajar tetap sama.
Yang membedakan tampak jelas dari spirit pemuda yang ada di Bali yang jauh
lebih energik dan bersemangat dibandingkan pemuda yang ada di Sumba. Mungkin
disebabkan SDM dan akses informasi yang menjadikan para pemuda yang ada di Bali
menjadi demikian. Bali tidak begitu menantang bagi saya, baik secara lokasi
maupun kepintaran dari pesertanya dalam memahami materi apa yang disampaikan
oleh saya. Hal ini sebabkan Bali lebih maju dari segi pembangunan fisik,
ekonomi, sosial dan budaya dibandingkan pemuda yang di Sumba yang masih minim
dibandingkan di Bali.
Bali dan sumba membuat banyak hikmah dalam kehidupan saya
sampai sekarang. Hikmah yang terbesar adalah ketika melihat keinginan
masyarakat desa dalam hal ini pemuda desa mau membangun mimpi desa mereka dengan
antusias. Bagi mereka hanya dengan “kemajuan” dibidang apapun membuat mereka
tidak merasa tertinggal dan merasa terjajah secara kultural. Harus bangkit,
menentukan pilihan sendiri demi kemajuan desa. Akhirnya saya pun membuat motivisi baru dalam
hidup saya bahwa saya harus terus belajar, belajar tentang banyak hal, tentang
desa, tentang pesisir, tetnang perencanaan dan lebih harus dipelajari adalah
tentang bagaimana semua ini membuat saya makin dekat dengan sang pencipta dan
membuat saya lebih bermanfaat untuk orang lain. Amiiiin…..
Salam delta api untukmu kawan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar