
Selasa, 01 Oktober 2013
HATI SENANG

Senin, 16 September 2013
Siapakah Arsitek Sesungguhnya?
Bagi saya, Tuhan telah memberikan potensi pada setiap diri manusia untuk memiliki “kreativitas merancang atau kreativitas mendesign” atas dirinya sendiri. Artinya manusia memiliki otoritas diri untuk mendesign, merancang visi dan misi hidup terhadap kehidupan pribadinya, kata lain manusia termasuk makhluk yang dibebaskan oleh Tuhan untuk menentukan seperti apa ruang cita-cita diinginkan oleh dirinya sekarang, besok dan dimasa yang akan datang. Kemampuan terlaksananya potensi itu merupakan konsep utama yang diterapkan dalam merancang atau medesaign keputusan hidup terhadap diri.
Terlepas dari itu semua, definisi arsitek terjawab dengan sendirinya dan membuktikan pernyataan saya sebelumnya,setelah saya melihat beberapa kumpulan anak yang bermain pasir di pinggir pantai yang sedang mendesain atau merancang rumah “angan” mereka sendiri. Hasilnya tidak kalah bagus bahkan lebih representative dibandingkan rancangan atau desaign karya arsitek sungguhan, peristiwa ini juga menunjukkan bahwa setiap manusia mampu menjadi arsitek tanpa harus menempuh pendidikan jurusan arsitektur, sehingga SESUNGGUHNYA semua manusia adalah ARSITEK. ‘Sudahkah kita mengarsitekkan diri kita sendiri supaya lebih baik dari sebelumnya”, jawabannya tidak perlu saya jawab dan jawablah sendiri hehehehe
Senin, 09 September 2013
Sedikit Bercerita tentang Karang Bajo
Tidak
gampang dan mudah untuk menemukan komunitas adat suatu desa di
kepulauan nusantara Indonesia. Umumnya desa yang ditemukan adalah desa yang telah
melepaskan baju kesederhanaannya, adat istiadatnya dalam mengikuti perkembangan
zaman. Perkembangan desa saat ini telah mengubah tampilan fisik wajah desa dari
yang tradisonal menjadi semi modern bahkan modern, sehingga lupa menampilkan ciri
kekhasaan yang dimiliki desa tersebut, akibatnya kurang menariknya untuk
diambil hikmah jika berkunjung ke desa yang berbaju modern tersebut.
Berbicara
tentang kekhasan yang dimiliki oleh desa, dari hasil pengamatan
jalan-jalan keliling pulau Lombok, saya telah menemukan satu desa yang asyik
dengan kekhasaannya sebagai desa adat, yang mana tampilan fisik
wajah desa yang masih menggunakan bahan alam pada bahan bangunan
di permukiman desa tersebut. Selain itu
pola hidup yang taat pada persepsi nenek moyang di masa lampau masih
dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Desa yang unik ini diberi nama desa
Karang Bajo.
Sejarah Karang Bajo konon berasal dari suku
Sulewesi yang berlayar dan menepi di Labuan Carik, sehingga orang itulah yang
mencukupi mukim tersebut dan orang itu pun tak menolak dan diberi tempat tinggal
sesuai dengan tempat tinggal yang lainnya dan memiliki nama, tempat ini juga
harus diberi nama yakni Karang Bajo hingga sekarang nama itu digunakan untuk
menamakan gubuk atau desa didalamnya, orang itupun tinggal disana hingga
memiliki keturunan. Dikarenakan Karna orang tersebut merupakan suku pesisir
hingga ia pindah dari karang bajo,karna kurang terbiasa dengan suasana semasam
itu agak bersekatan dengan lereng gunung rinjani, iapun memutuskan unutk
pindah. Ke pinggiran pantai ,yang sekarang desa tersebut
di sebut Kampung telagabagek. Yang sampai saat ini kampung itu juga masih utuh
sampai sekarang. (Santiri, 2011).
Hasil wawancara
dengan pemangku desa disana masih banyak ritual adat yang masih dilakukan
antara lain :
1.
Maulid Adat yang dilaksanakan setiap tahun pada
bulan Rabiul Awal di masjid kuno Bayan;
2.
Ngaponin, acara pencucian pusaka benda-benda bersejarah
milik leluhur;
3.
Lebaran adat, yang dilaksanakan setiap tahun
akhir puasa;
4.
Asuh Prusa, prosesi ritual pergantian mangku
perumbaq (ketua adat), dll;
Dari empat
ritual adat di atas, masih banyak acara ritual yang bertahan dan tetap
dilaksanakan di desa Karang Bajo. Hanya saja tidak bisa saya sebutkan satu
persatu. Desa adat ini sangat cocok untuk dijadikan lokasi penelitian, terutama
di bidang kearifan lokal sebagai upaya pelestarian kawasan desa adat di Pulau Lombok. Dan tak kalah penting, sekembalinya dari kunjungan desa Karang Bajo setidaknya dapat mengambil hikmah tentang ketulusan jiwa atas usaha mempertahankan "adat istiadat" yang mereka jalankan ditengah glamournya zaman yang galau ini.
Selasa, 03 Juli 2012
Normalisasi Sungai Unus
Normalisasi
sungai adalah menciptakan kondisi sungai dengan lebar dan kedalaman tertentu.Sungai mampu mengalirkan air sehingga tidak terjadi luapan dari sungai
tersebut. Kegiatan normalisasi sungai berupa membersihkan sungai dari endapan
lumpur dan memperdalamnya agar kapasitas sungai dalam menampung air dapat
meningkat. Hal ini dilakukan dengan cara mengeruk sungai tersebut di
titik-titik rawan tersembunyi aliran air upaya pemulihan lebar sungai merupakan
bagian penting dari program normalisasi sungai karena meningkatkan kapasitas
sungai dalam menampung dan mengalirkan ke laut.
Menurut
Maryono dalam Masyhuri (2007) pengembangan sungai-sungai di Indonesia dalam 30
tahun terakhir ini mengalami peningkatan pembangunan fisik yang relative cepat.
Pembangunan fisik tersebut misalnya pembuatan sudetan, pelurusan, pembuatan
tanggul sisi dan pembetonan tebing, baik sungai kecil maupun besar. Hal ini
menyebabkan terjadinya percepatan aliran menuju hilir dan sungai bagaian hilir
akan menanggung aliran yang lebih besar dalam waktu yang lebih cepat dibanding
sebelumnya. Perbaikan sungai akan memberikan pengaruh maksimal sehingga
empat kali lipat, itu pun jika proses pelebaran atau pengerukan sebesar dua
kali lipatnya dapat berjalan lancar (Kodoatie dan Sjarief, 2008). Pelebaran
sungai harus dipertahankan sampai ke lokasi sungai paling hilr.
Sungai unus
adalah salah satu sungai yang terbesar yang mengalir di lingkungan Pagutan.
Sungai unus masih dimanfaatkan oleh masyarakat Pagutan khususnya masyarakat
Peresak Timur, Gulinten dan warga pertigaan kali Sri Bhakti, sedangkan Presak
Timur terindikasi menjadi daerah rawan banjir. Menurut www. Portalmataram.
Blogspot.com (28/09/2010) hal ini terungkap dari hasil pemetaan lingkungan
permukiman yang dilakukan tim penataan Lingkungan Berbasis Komunitas (PLP-BK).
Badan keswadayaan masyarakat (BKM) Sami Karya PAgutan. Dikatakan Jayadi ketua
Tim Ahli Pendamping Program (TAPP) BKM Sami Karya Pagutan bahwa penyebab dari
banjir dikarenakan tingginya sedimen atau endapan di dasar aliran Sungai Unus
yang membelah kampung Presak Timur. Drainase primer ini di beberapa titik
terdapat pintu pembagi air yang berimbas terlintasnya semua wilayah Pagutan. Di kampung Presak Timur, saluran sungai ini
mengalir di kedua sisi Utara dan Selatan kampung dengan ketinggian rata-rata
saat ini 1,5 m dengan lebar rata-rata 3 m. Dibandingkan 20 tahun lalu kedua
saluran sungai Unus masih cukup dalam dan bersih sehingga tidak terjadinya
banjir di sekitar lingkungan Pagutan ketika musim hujan tiba.
berdasarkan hasil survei, sampah merupakan salah satu penyebab sedimentasi di Sungai Unus,
sampah yang dominan terlihat di sungai Unus adalah sampah dari sampah plastik.
Bahan plastik sudah lama mengendap di sungai, sehingga aliran sungai menjadi
tidak lancar dan sungai terlihat kotor dan kumuh. Sampah diperoleh dari hasil aktivitas rumah tangga di lingkungan tersebut, misalkan kebanyakan ibu-ibu membuang sampah di sungai, selain itu sampah yang berada di sungai Unus adalah merupakan hasil kiriman sampah dari aliran sungai Unus di luar lingkungan Pagutan sendiri, misalkan kiriman sampah rumah tangga dari lingkungan Abian Tubuh. Untuk itu tujuan penulisan ini setidaknya dapat menggugah hati kita untuk bersama-sama mengadakan normalisasi di Sungai Unus.
Sabtu, 16 Juni 2012
Puisi-puisi Gus Mus
Kau ini bagaimana?
kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kafir
aku harus bagaimana?
kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai
kau ini bagaimana?
kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aq plin plan
aku harus bagaimana?
aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimbung kakiku
kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku
kau ini bagaimana?
kau suruh aku takwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya
aku harus bagaimana?
aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
aku kau suruh berdisiplin, kau mencontohkan yang lain
kau ini bagaimana?
kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara tiap saat
kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai
aku harus bagaimana?
aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya
kau ini bagaimana?
kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah
aku harus bagaimana?
aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
aku kau suruh bertanggungjawab, kau sendiri terus berucap wallahu a'lam bissawab
kau ini bagaimana?
kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku
aku harus bagaimana?
aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah kupilih kau bertindak sendiri semaumu
kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu
kau ini bagaimana?
kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis
aku harus bagaimana?
kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja
kau ini bagaimana?
aku bilang terserah kau, kau tidak mau
aku bilang terserah kita, kau tak suka
aku bilang terserah aku, kau memakiku
kau ini bagaimana?
atau aku harus bagaimana?
kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kafir
aku harus bagaimana?
kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai
kau ini bagaimana?
kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aq plin plan
aku harus bagaimana?
aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimbung kakiku
kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku
kau ini bagaimana?
kau suruh aku takwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya
aku harus bagaimana?
aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
aku kau suruh berdisiplin, kau mencontohkan yang lain
kau ini bagaimana?
kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara tiap saat
kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai
aku harus bagaimana?
aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya
kau ini bagaimana?
kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah
aku harus bagaimana?
aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
aku kau suruh bertanggungjawab, kau sendiri terus berucap wallahu a'lam bissawab
kau ini bagaimana?
kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku
aku harus bagaimana?
aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah kupilih kau bertindak sendiri semaumu
kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu
kau ini bagaimana?
kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis
aku harus bagaimana?
kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja
kau ini bagaimana?
aku bilang terserah kau, kau tidak mau
aku bilang terserah kita, kau tak suka
aku bilang terserah aku, kau memakiku
kau ini bagaimana?
atau aku harus bagaimana?
Ruang TErbuka Hijau Udayana Kota Mataram
Salah satu RTH
yang direncanakan dan dilestarikan keberadaannya di Kota Mataram adalah RTH
yang berada di jalan Udayana. Dilihat dari kondisinya ruang terbuka hujau (RTH)
di jalan Udayana Kota Mataram belum terkelola dengan sempurna. Pembagian
penzoningan dan kenyamanan belum sepenuhnya terlihat dan dirasakan. Pembagian
penzoningan seperti zona taman bermain, zona interaksi, zona pertemuan, zona
kebugaran belum sepenuhnya berjalan baik.
Apabila kita
amati lebih dekat lagi, fungsi RTH Udayana sebagai daerah penyerapan air hujan
sudah cukup memadai. Keberhasilan dari RTH Udayana tersebut untuk menyerap air
secara optimal sehingga daerah di sekitarnya tidak terjadi banjir saat hujan
adalah buktinya.
Untuk fungsi
estetis pengaturan tanaman sebagian besar sudah baik, hal ini dapat dilihat
dari pengaturan jenis tanaman seperti tanaman peneduh, pengarah dan lain-lain
sudah cukup memadai, hanya pada pengaturan elemen-elemen arsitektural yang
kurang menarik. Artinya detail-detail arsitektural yang lebih menunjukkan tanda
lokasi (landmark) dari fungsi RTH Udayana itu sendiri masih terlihat
biasa-biasa saja. Seharusnya detail-detail arsitektural didesaign semenarik
mungkin sebagai landmark dari taman
Kota Mataram
Selain kondisi RTH belum terkelola dengan
sempurna, dan kurang menariknya detail arsitektural yang kurang memberikan
informasi sebagai tanda lokasi (landmark),
adapun pokok permasalahan saat ini adalah kurangnya sistem maintenance dari RTH Udayana itu sendiri. Pihak Pemerintah Kota
maupun masyarakat tampaknya kurang peduli dengan kebersihan dari RTH Udayana
ini. Hal ini terbukti dengan banyaknya sampah-sampah yang berserakan di dalam
RTH Udayana. Memang dampak yang terjadi masih belum dapat dirasakan secara
langsung pada saat ini, akan tetapi apabila sampah semakin menumpuk, maka
fungsi RTH Udayana akan terganggu. Sampah yang dominan berada di RTH Udayana
ialah sampah plastik yang berasal dari pedagang PKL dan pengunjung dari RTH
Udayana.
Sebagai upaya
pencegahan, solusi yang terbaik dan paling utama adalah dengan cara menjaga
kebersihannya, merawat dan mengganti apabila ada tanaman maupun elemen-elemen
arsitektural yang talah ada sebelumnya. Dan pada akhirnya dirasa perlu akan
adanya kebijakan dari Pemerintah untuk melestarikan keberadaan dari RTH Udayana
Mataram ini.
Ruang Sosialisasi Anak di Lingkungan Pagutan
Kegiatan sosialisasi anak dapat
dilakukan di lingkungan keluarga maupun di lingkungan binaan. Ruang sosialisasi
di lingkungan keluarga, sebatas di dalam rumah tinggal dan sosialisasi dengan
anak lain yang sebaya lebih banyak dilakukan di ruang luar. Lingkungan yang
menarik dan unik dapat mendorong perkembangan fisik dan mental yang baik,
sedangkan lingkungan tidak menarik menyebabkan perkembangan anak di bawah
kamampuannya (Hurlock, 1995). Mimica (1995) menegaskan bahwa Piaget pernah
mengamati bahwa anak-anak tidak hanya senang dengan mainan buatan pabrik,
tetapi juga senang bermain dengan unsur alam seperti air, pasir, tanah liat.
Kegiatan yang dilakukan seperti memanfaatkan sudut atau celah yang dapat
digunakan sebagai tempat yang privat, seperti rumah-rumahan di atas pohon dan
bermain luncur-luncuran.
Umumnya tujuan mereka bermain di teras tidak lain untuk menjaga adik2 mereka sambil bermain tanpa harus jauh dari tempat tinggal mereka. Ini pula memudahkan orang tua memantau mereka dari rumah mereka sendiri, namun di teras sangat terbatas pemainan yang bisa dilakukan tidak sebanyak permainan yang dilakukan di luar rumah.
Pengalaman sosial awal adalah
usia 5 sampai 9 tahun yang akan menentukan kepribadian (Hurlock, 1995). Apabila
dikaitkan dengan lingkungan, Jean Piaget dalam Mimica (1995) menyatakan usia
tersebut sebagai tahap pertama kesadaran pada lingkungan. Anak mulai bisa
mengenali tentang jarak, sesuatu yang ada disekeliling, urutan jalan sehingga
sudah dapat mengenali rute.
Moore, dalam Snyder, 1989,
menyatakan bahwa anak-anak merupakan pemakai terbanyak dari luar terbuka,
sebenarnya tidak cukup hanya taman, teras rumah, halaman atau jalan. Suatu
penelitian membuktikan bahwa anak-anak menggunakan kurang dari lima belas menit
di suatu tempat bermain selama masa beberapa jam. Dengan demikian perlu
disediakan ruang bermain yang aman dan bersambungan. Beberapa kelompok rumah,
jalan-jalan atau ruang yang tersisa dibuat saling berhubungan.
Anak usia 5 sampai 9 tahun,
sebagai awal dari kegiatan sosialisasi dan sekaligus sebagai tahap awal
pengenalan lingkungan. Akan tetapi area terbuka yang diharapkan untuk bermain
saat ini sangat terbatas. Dengan demikian anak perlu menyesuaikan dengan
lingkungan atau melakukan adjustmen (Bell,
1978). Bagi anak yang tidak dapat menysuaikan dengan lingkungan, maka anak akan
mengalami stress (Sarwono,1992).
Beberapa kasus keberadaan ruang
sosialisasi anak di Pagutan
Pada beberapa perkampungan padat
seperti Pagutan keberadaan ruang terbuka sangat terbatas. Ruang sosialisasi
bagi anak-anak di sekitar tercipta seadanya. Tidak tersedianya ruang
sosialisasi bagi anak membuat anak-anak dapat bermain di mana saja tanpa
mendapat perhatian khusus dari orang tua mereka sendiri. Padahal jika berpijak
pada penelitian Moore dalam Synder, 1989, menyatakan bahwa anak-anak merupakan
pemakai terbanyak dari luar terbuka, sebenarnya tidak cukup hanya taman, teras
rumah, halaman atau jalan. Namun kenyataaan yang diperoleh dari hasil survey
dan observasi ditemukan ada beberapa spot ruang sosialisasi anak di Pagutan
yaitu:
a. Kuburan
Kuburan umumnya
dikategorikan sebagai ruang terbuka hijau untuk masyarakat, namun lebih unik
lagi jika kuburan dijadikan ruang sosialisasi bagi anak-anak. Berbagai
permainan yang bisa dilakukan di kuburan, misalkan saja main petak umpat, main
jual-jualan, main benteng dan sebagainya, mereka bermain tanpa merasa takut
sedikit pun akan keberadaan dan fungsi dari kuburan tersebut.
b. Teras
Umumnya tujuan mereka bermain di teras tidak lain untuk menjaga adik2 mereka sambil bermain tanpa harus jauh dari tempat tinggal mereka. Ini pula memudahkan orang tua memantau mereka dari rumah mereka sendiri, namun di teras sangat terbatas pemainan yang bisa dilakukan tidak sebanyak permainan yang dilakukan di luar rumah.
c. Saluran
sungai unus
Kesenangan yang
paling terasa bagi anak-anak Pagutan adalah bermain sambil mandi di saluran
sungai unus ini. Mereka dapat berekspresi sesuai dengan imajinasi mereka
sendiri. Meskipun air terlihat tidak jernih, bagi mereka tidak masalah yang
penting bermain adalah hal yang menyenangkan.
d. Gang/jalan
Anak-anak yang
bermain di gang yang sering ditemukan yaitu bermain sepeda, kelereng dan
ngerumpi bagi anak-anak remaja di pinggiran jalan/gang. Meskipun di jalan yang
penuh debu dan kotoran samapah, bermain pun tetap berlangsung.
Perlu diperhatikan untuk
menyediakan fasilitas khusus untuk bermain di lingkungan Pagutan,misalkan saja
taman bermain, lapangan atau tempat yang luas yang bisa membebaskan anak-anak
berkespresi dalam situasi permainan yang mereka ciptakan sendiri. Hal ini
setidaknya perlu mendapat perhatian yang khusus bagi orang dewasa yang berada
di Pagutan demi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak pagutan itu sendiri.
Jika tidak anak yang tidak terpenuhi Anak yang tidak terpenuhi kegiatan
sosialisasinya atau mengalami sters akan kurang sempurna pada perkembangannya.
Kalau tidak berkembang dengan baik, anak akan mempunyai beberapa kekurangan,
antara lain : anak sulit untuk memahami temannya, selalu tergantung, sulit
menyesuaikan diri, kurang pergaulan (Hurlock, 1995). Bila kenyataan demikian
diharapkan adanya dukungan dari orangtua untuk lebih memperhatikan kebutuhan
anak dalam hal ini untuk dapat bersosialisasi dan bermain dengan aman sehingga
ruang sosialisasi ini perlu diperhatikan betul keberdaaannya. Selain itu juga
perlu diciptakan keberadaan area terbuka jika tidak ada, dan tetap mempertahankan
keberadaan area trbuka, misalkan halaman yang luas atau fasilitas bermain di
sekolah-sekolah untuk dapat mendukung kegiatan sosialisasi anak dan bermain.
Langganan:
Postingan (Atom)